F.A.Q

  • Definisi Operasional

  • Pertanyaan Umum

Zonasi

Apa itu RDTR-PZ?

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) adalah dokumen rencana yang terperinci mengenai tata ruang wilayah tingkat kecamatan. RDTR juga dilengkapi dengan Peraturan Zonasi (PZ) yang mengatur pemanfaatan ruang untuk setiap zona peruntukan tata ruang. RDTR-PZ DKI Jakarta secara lengkap dijelaskan dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.


Link Referensi/Download :

Apa saja klasifikasi zonasi yang berlaku di DKI Jakarta?

Zonasi di DKI Jakarta terbagi menjadi 9 klasifikasi besar sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2030, berikut dengan warna identifikasi dan kode zonasinya masing-masing. Klasifikasi zonasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Zonasi pada Kawasan Fungsi Lindung (L – Hijau Tua)
b. Zonasi pada Kawasan Terbuka Hijau Budi Daya (H – Hijau Muda)
c. Zonasi pada Kawasan Pemerintahan (P – Merah)
d. Zonasi pada Kawasan Perumahan (R – Kuning)
e. Zonasi pada Kawasan Perkantoran, Perdagangan, dan Jasa (K – Ungu)
Sub-zona Campuran (C – Jingga)
f. Zonasi pada Kawasan Pelayanan Umum dan Sosial (S – Coklat)
g. Zonasi pada Kawasan Industri (I) dan Pergudangan (G) – (Abu-abu)
h. Zonasi pada Kawasan Ruang Terbuka Biru (B – Biru)
i. Zonasi pada Kawasan Pertambangan (T) dan Taman Nasional Kepulauan Seribu (PP) – (Ungu Muda)


Link Referensi/Download :

Apa yang dimaksud dengan Type T ?

Tipe Tunggal adalah bangunan yang harus memiliki jarak bebas dengan batas perpetakan atau batas pekarangan pada sisi samping dan belakang.


Link Referensi/Download :

Apa yang dimaksud dengan Type D ?

Tipe Deret adalah bangunan yang diperbolehkan rapat dengan batas perpetakan atau batas pekarangan pada sisi samping.


Link Referensi/Download :

Apa yang dimaksud dengan Type K ?

Tipe Kopel adalah bangunan yang diperbolehkan rapat pada salah satu sisi samping dengan batas perpetakan atau bangunan disebelahnya.


Link Referensi/Download :

Apa Yang dimaksud dengan PSL?

PSL adalah Pola Sifat Lingkungan adalah pengelompokan lokasi lingkungan yang sama sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pola sesuai dengan rencana kota.

PSL terdiri dari :

1. Tidak Padat (TP)

2. Kurang Padat (KP)

3. Padat (P)

4. Sangat Padat (SP)


Link Referensi/Download :

Bagaimana cara mengetahui klasifikasi zonasi lahan saya?

Untuk mengetahui informasi zona secara umum: http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ ‘Dinas Penataan Kota’ → ‘Rencana Zonasi’ → unduh Peta Zonasi untuk Kecamatan anda.

Jika Anda ingin mengakses Peta Operasional dan mengetahui Zonasi, Intensitas, dan jenis Pemanfaatan yang diperbolehkan:
http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → ‘Dinas Penataan Kota’ → ‘Operasional’ → Peta/Tabel Intensitas/Tabel ITBX.


Link Referensi/Download : http://smartcity.jakarta.go.id/maps/

Bagaimana cara mengetahui jenis pemanfaatan yang diperbolehkan di lahan saya?

Jenis pemanfaatan diatur oleh Tabel Pelaksanaan Kegiatan dalam Sub-Zona, atau biasa dikenal dengan nama Tabel ITBX.


Link Referensi/Download :

Apa saja klasifikasi zonasi yang berlaku di DKI Jakarta?

Zonasi di DKI Jakarta terbagi menjadi 9 klasifikasi besar sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2030, berikut dengan warna identifikasi dan kode zonasinya masing-masing. Klasifikasi zonasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Zonasi pada Kawasan Fungsi Lindung (L – Hijau Tua)
b.
Zonasi pada Kawasan Terbuka Hijau Budi Daya (H – Hijau Muda)
c.
Zonasi pada Kawasan Pemerintahan (P – Merah)
d.
Zonasi pada Kawasan Perumahan (R – Kuning)
e.
Zonasi pada Kawasan Perkantoran, Perdagangan, dan Jasa (K – Ungu)
                   Sub-zona Campuran (C – Jingga)
f.
Zonasi pada Kawasan Pelayanan Umum dan Sosial (S – Coklat)
g.
Zonasi pada Kawasan Industri (I) dan Pergudangan (G) – (Abu-abu)
h.
Zonasi pada Kawasan Ruang Terbuka Biru (B – Biru)
i.
Zonasi pada Kawasan Pertambangan (T) dan Taman Nasional Kepulauan Seribu (PP) – (Ungu Muda)


Link Referensi/Download :

Pemanfaatan dan Perizinan

Apa itu Tabel ITBX?

Tabel ITBX adalah sebuah tabel yang secara rinci mengatur kegiatan-kegiatan yang diperbolehkan di setiap sub-zona di tiap Kecamatan. Tabel ITBX di sebut demikian karena ketentuan kegiatan di bagi menjadi 5 (lima) kategori:
I : Diizinkan
T: Diizinkan Terbatas
B : Diizinkan Bersyarat
TB: Diizinkan Terbatas Bersyarat
X: Tidak Diizinkan

Untuk mengakses Tabel ITBX Kecamatan anda, Anda dapat mengakses (http://smartcity.jakarta.go.id/maps/), lalu pilih opsi Dinas Penataan Kota, dan centang Operasional. Lalu cari nama Kecamatan anda, dan unduh Tabel ITBX.

PPT cara membaca Peta Operasional JSC, slide 11-12. dan Panduan cara membaca Tabel ITBX dapat di unduh di sini.


Link Referensi/Download : semua-download.html

Intensitas

Apa perbedaan Peta Zonasi dan Peta Operasional?

Peta Zonasi adalah peta berskala 1:5000, yang memperlihatkan peraturan zonasi di setiap Kecamatan secara umum. Dalam Peta Zonasi bermanfaat sebagai acuan perizinan pemanfaatan ruang.

Sedangkan Peta Operasional adalah peta yang lebih rinci, dengan skala 1:1000. Peta ini juga memuat jalanan yang lebarnya di bawah 12 meter, dan pembagian-pembagian persil tanah terlihat lebih jelas. Maka dari itu, Peta Operasional cocok untuk masalah perizinan dan pemanfaatan ruang.


Link Referensi/Download :

Apa yang dimaksud dengan KLB ?

Koefisien Lantai Bangunan adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai bangunan gedung dengan luas efektif lahan perpetakan atau lahan perencanaan yang dikuasai sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Detail Tata Ruang, dan Peraturan Zonasi


Link Referensi/Download :

Apa yang dimaksud dengan KTB ?

Koefisien Tapak Basemen adalah angka persentase berdasarkan perbandingan antara luas tapak basemen dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan oleh lingkungan


Link Referensi/Download :

Bagaimana cara mengetahui tingkat Intensitas Bangunan yang diperbolehkan di lahan saya?

Untuk mengetahui intensitas bangunan yang diperbolehkan, anda hanya membutuhkan ID Sub-blok properti anda yang dapat dilihat di Peta Operasional Jakarta Smart City, dan Tabel Intensitas.

Peta Operasional dan Tabel Intensitas: http://smartcity.jakarta.go.id/maps/ → Dinas Penataan Kota → Operasional → Unduh Peta dan Tabel Intensitas untuk Kecamatan Anda


Link Referensi/Download :

Umum

Apa Yang dimaksud dengan GSB ?

Garis Sepadan Bangunan adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line)


Link Referensi/Download :

Apa Yang dimaksud dengan ramp ?

ramp adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu (1:5), sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga dan kendaraan untuk menuju parkir di lantai atas atau bawahnya


Link Referensi/Download :

Berapa lebar GSB ?

Lebar GSB tergantung lebar rencana jalan
a. Jalan dengan lebar rencana kurang atau sama dengan 12 m (dua belas meter), GSB sebesar setengah kali lebar rencana jalan;
b. Jalan dengan lebar rencana antara 12 m (dua belas meter) sampai atau sama dengan 26 m (dua puluh enam meter), GSB sebesar 8 m (delapan meter);
c. Jalan dengan lebar rencana lebih besar dari 26 m (dua puluh enam meter), GSB sebesar 10 m (sepuluh meter);
d. Jalan yang ada dan tidak merupakan rencana jalan, GSB sebesar 2 m (dua meter);
e. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c dan huruf d tidak berlaku pada Kawasan Cagar Budaya atau kawasan tertentu tanpa GSB dengan menyediakan pedestrian yang ditetapkan oleh Gubernur.


Link Referensi/Download :

Apakah masih bisa ada perubahan Zonasi ?

- Sesuai dengan perda 1 tahun 2014 RDTR dan PZ tidak ada lagi perubahan zonasi tetapi lahan tersebut dapat melakukan penambahan kegiatan sesuai dengan Tabel ITBX
- Sesuai dengan Undang-Undang No.26 Tahun 2007 Penjelasan Pasal 20


Link Referensi/Download :

Kapan Rencana jalan akan di realisasikan ?

- Dilihat dari aspek kebutuhan warga dan tersedianya anggaran
- Kebijakan Kepala Daerah


Link Referensi/Download :

Apakah rencana jalan dapat berubah ?

Rencana jalan < 12 m dan tidak terdapat dalam peta zonasi dapat dilakukan penataan


Link Referensi/Download :

Apakah pada Zona Hijau dapat dibangun bangunan baik hunian atau lainnya ?

Zonasi hijau tidak dapat didirikan bangunan berdasarkan Perda 1 Tahun 2014


Link Referensi/Download :

Apabila Bangunan kami di atas jalur hijau atau rencana jalan akankah ada penggantian dari pihak pemerintah ?

Jika dibebaskan akan dilakukan penggantian oleh pemerintah


Link Referensi/Download :

Apakah tipe bangunan dapat diubah menjadi tunggal dan sebagainya ?

Dikarenakan sudah menjadi peraturan intensitas pada perda 1 tahun 2014 maka peraturan intensitas tersebut di sesuaikan dengan peraturan yang ada di perda tersebut.


Link Referensi/Download :

Bolehkah saya membuka usaha di rumah?

Sesuai dalam ketentuan Tabel ITBX pada zona perumahan kegiatan usaha dapat diizinkan antara lain:
a. Diperbolehkan (Kode I) : untuk kegiatan penitipan anak pada sub zona R1-R10
b. Diizinkan terbatas (Kode T) : untuk kegiatan warung telekomunikasi, warnet dan game center, pangkas rambut, salon dan laundry pada sub zona R1-R11; serta catering pada sub zona R4-R11.


Link Referensi/Download :

Apakah ada jenis izin pemanfaatan khusus untuk rumah kost?

Sesuai dengan ketentuan dalam Tabel ITBX, kegiatan rumah kost:
a. Diperbolehkan (Kode I) pada sub-zona R6-R11.
b. Diizinkan bersyarat (Kode B) pada sub-zona R1-R5, K1-K5, dan C1; dengan syarat sekurang-kurangnya memiliki izin hangguan dan menyediakan tempat parkir kendaraan di dalam persil.


Link Referensi/Download :

Apa yang di maksud dengan prasarana penunjang?

Prasarana penunjang adalah fasilitas-fasilitas tertentu yang diperbolehkan di zona/sub-zona meskipun peruntukkan utamanya tidak secara eksplisit mencakup kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai contoh, prasarana penunjang yang diperbolehkan adalah sebagai berikut:
a. Untuk Kawasan Pemerintahan: asrama, rumah dinas, tempat ibadah, kantin/food court.
b. Untuk Kawasan Perkantoran: tempat ibadah, kantin/food court.
c. Untuk Kawasan Rumah Susun/Apartemen: tempat ibadah, kantin/food court, mini market.

Pemanfaatan ruang untuk prasarana penunjang maksimal 20% dari luas seluruh lantai bangunan.


Link Referensi/Download :

Jika pertanyaan Anda belum ada pada halaman FAQ, silahkan kirimkan pertanyaan anda melalui email : uptd_cktrp@jakarta.go.id